MAKNA DAN NILAI BUDAYA DALAM UNGKAPAN TRADISIONAL PETANI ETNIS BALI. STUDI LINGUISTIK DI DESA ATULA, KECAMATAN LADONGI, KABUPATEN KOLAKA TIMUR
DOI:
https://doi.org/10.52232/risdamas.v2.i1.113Keywords:
Makna; Ungkapan Tradisional; Etnis Bali; Studi LinguistikAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna dan nilai budaya dalam ungkapan tradisional petani etnis Bali di Desa Atula, Kecamatan Ladongi, Kabupaten Konawe Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna yang terkandung dalam ungkapan tradisional masyarakat Bali. Data dalam penelitian ini yaitu berupa data lisan. Informan yang menjadi sumber data utama dalam penelitian ini adalah petani berumur 40 –60 tahun. Ada dua teknik pengumpulan data, yaitu wawancara dan simak catat. Teknik Analisis data yang dilakukan adalah menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan ungkapan tradisional petani etnis Bali di Desa Atula, Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur, memiliki variasi bentuk bahasa berupa frasa, klausa, dan kalimat yang sarat makna serta nilai budaya. Ungkapan tradisional yang digunakan dalam setiap tahapan pertanian mulai dari penetapan masa tanam, pembibitan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan pascatanam, hingga panen memiliki makna yang mendalam, baik secara linguistik maupun budaya. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak hanya menjadi pedoman teknis dalam bertani, seperti memilih hari baik, menentukan bibit unggul, hingga menjaga kesuburan tanah, tetapi juga sarat dengan nilai spiritual, filosofi syukur, serta kearifan lokal yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Manfaat penelitian ini adalah memberikan kontribusi bagi pelestarian budaya bahasa Bali, khususnya dalam ranah pertanian tradisional, menjadi bahan kajian linguistik berbudaya lokal, serta memberikan pemahaman bagi generasi muda dan masyarakat luas tentang pentingnya menjaga, menghargai, dan melestarikan kearifan lokal sebagai identitas budaya
